2.Anugerah Fields Medal Diumumkan
Terry Mart (Fisika UI)
Selasa 22 Agustus lalu pemenang Anugerah Fields Medal diumumkan. Empat orang yang beruntung adalah Andrei Okounkov, profesor matematika di Universitas Princeton, Amerika; Grigori Perelman, matematikawan eksentrik dari Rusia; Terence Tao, profesor matematika di Universitas California; dan Wendelin Werner, profesor matematika di Universitas Paris-Sud di Orsay, Perancis.
Keempat peraih penghargaan ini semuanya berusia kurang dari empat puluh tahun karena penghargaan ini memang hanya diberikan untuk matematikawan muda yang sangat berprestasi.
Fields Medal diumumkan sekali dalam empat tahun, yaitu pada saat berlangsungnya Kongres Matematika Internasional. Nama medali ini diambil dari nama seorang matematikawan Kanada, Charles Fields (1863-1932), dan untuk pertama kalinya dianugerahkan pada Kongres Internasional Matematika di Oslo pada tahun 1936.
Fields Medal merupakan penghargaan sekaliber Nobel karena hadiah Nobel memang tidak mencakup bidang matematika. Di samping medali tersebut, penerima Fields Medal juga mendapatkan uang yang konon katanya mencapai satu juta dollar Amerika Serikat. Penghargaan ini diberikan untuk satu tema penelitian yang dihasilkan, bukan untuk satu pencapaian tunggal yang dihasilkan dari satu penelitian.
Jasa keempat pemenang
Andrei Okounkov mendapatkan medali ini untuk kontribusinya dalam menjembatani teori representasi, teori peluang, dan geometri aljabar. Meski sulit dijelaskan, karya-karyanya sangat berguna dalam menyelesaikan problem-problem fisika modern, misalnya pada persoalan mekanika statistik.
Dilahirkan di Moskow tahun 1969, Andrei Okounkov mendapatkan gelar doktor dari Moscow State University pada usia 26 tahun. Meski cukup muda, ia memiliki posisi di institusi-institusi bergengsi, seperti sebagai profesor di Universitas Princeton dan Universitas California Berkeley, serta anggota Akademi Sains Rusia.
Terence Tao merupakan seorang ekspert untuk pemecahan masalah matematika. Karya-karya spektakulernya membentang luas di antara beberapa bidang matematika. Terence Tao mendapatkan penghargaan ini untuk kontribusinya pada persamaan- persamaan diferensial, kombinatorik, analisis harmonik, dan teori bilangan aditif. Tao dilahirkan di Adelaide, Australia, 31 tahun yang lalu dan memperoleh gelar doktor matematika dari Universitas Princeton pada saat ia berusia 21 tahun. Saat ini ia menjabat posisi profesor pada Universitas California di Los Angeles.
Wendelin Werner berjasa dalam mengembangkan teori evolusi Loewner stokastik, geometri dari gerak Brown dua dimensi, dan teori medan konformal. Karya Wendelin merupakan interaksi paling kreatif antara bidang matematika dan fisika.
Penelitian Werner menghasilkan satu kerangka kerja baru dalam memahami fenomena kritis yang muncul di fisika serta membuka pandangan geometrik baru yang selama ini tidak terpikirkan.
Yang paling menghebohkan adalah penghargaan untuk matematikawan eksentrik Grigori Perelman. Ia mendapatkan penghargaan untuk jasanya dalam bidang geometri serta pandangan revolusionernya tentang struktur geometri serta analitik dari aliran Ricci.
Nama Perelman memang sudah sangat terkenal belakangan ini, bahkan beberapa bulan yang lalu majalah ilmiah Nature sudah meramalkan bahwa ia akan mendapatkan penghargaan bergengsi ini. Karya-karya spektakulernya dihasilkan pada tahun 2002-2003 dan tidak pernah dipublikasikan secara resmi di jurnal ilmiah. Ia mengirimkan tiga paper, yang ia klaim menyelesaikan dua problem matematika topologi terbesar abad ini, yaitu poincare conjecture dan thurston geometrization conjecture, ke sebuah arsip preprint server Fisika dan Matematika di Amerika (dulunya bernama Los Alamos Arxiv).
Begitu namanya diumumkan sebagai pemenang Fields Medal, ratusan atau bahkan ribuan orang secara serentak ingin membaca paper-paper tersebut, sehingga server tadi harus di-shut down.
Pada kenyataannya, butuh tiga tahun untuk membuktikan kebenaran klaim Perelman. Bahkan, hingga detik ini puluhan ahli matematika terkemuka masih bekerja.
Dalam papernya, Perelman menuliskan bahwa karyanya tidak didukung oleh dana penelitian dari instansi mana pun. Ia mendanai penelitiannya dari tabungannya sendiri yang ia kumpulkan selama ia menjadi peneliti tamu di Courant Institute,
SUNY di Stony Brook, serta di Universitas California di Berkeley. Beberapa koran terkenal, seperti The Guardian, menuliskan bahwa Perelman kemungkinan merupakan makhluk tercerdas namun tergila di planet ini. Uniknya, meski tidak memiliki banyak uang, Perelman menolak hadiah-hadiah uang yang dianugerahkan oleh komunitas matematika Eropa. Ia menolak dengan alasan bahwa juri yang menilai karyanya tidak cukup "qualified". Bahkan, yang lebih mengherankan lagi, ia juga menolak hadiah sebesar satu juta dollar AS dari Clay Mathematics Institute di Boston, Amerika!
Institusi ini memang menyediakan hadiah spektakuler bagi penemu solusi-solusi problem matematika terbesar abad ini.
Perelman memang orang cerdas. Saat berusia 16 tahun ia mendapatkan medali emas pada Olimpiade Matematika Internasional dengan nilai sempurna. Mungkin Perelman patut menjadi sosok yang harus direnungkan oleh ilmuwan atau peneliti di negeri kita.
Rabu, 08 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar