Senin, 18 Mei 2009

View Full Version : Theory Of Everything
criss
24-08-2002, 07:25 PM
Klo dari sisi agama (dlm arti nyatuin aliran2 agama jadi satu) masih muskil sih...tapi kalo dari sisi science keknya lagi mo disatuin menjadi satu muara sungai besar bernama Thoery Of Everything ... yg menyatukan aliran2 besar pada science yi Quantum Mechanics, General Relativity and Superstring Theory

Cobe liat link ini :
http://www.everythingforever.com/st_convrg.html

En gambar ini :
http://www.everythingforever.com/DIAGR9.JPG

Di situ bisa dilihat polar di atas adl bigbang pembentuk universe tempat berawalnya time.
En yg di polar bawah adl black hole akhir dr universe tempat berakhirnya time.

Trus teori yg mo disatuin (klo gue bilang sih yg mendukung) adl dari ilmu komputer and matematika.
Kek Cellular Automata (by Stephen Wolfram), Fractal Design, Artificial Intelligence.
Kisah di Balik Buku ”A New Kind of Science”
Semua Temuan Besar Berawal dari Pola Pikir Primitif

London, Sinar Harapan
Orang awam cenderung menggunakan pola pikir ”primitif”. Begitu pula para ilmuwan yang tumbuh dengan pola pikir sebab musabab. Demikian pernyataan sejumlah psikolog baru-baru ini.
Sebagai contoh, dokter percaya bahwa paru-paru rubah bisa mengobati penyakit asma. Atau juga para ilmuwan ada yang menyimpulkan bahwa kebersihan mulut terkait dengan kebiasaan merokok, makan dan berciuman. Semua kesimpulan ini merupakan hasil pemikiran jangka panjang seperti halnya hasil kerja komputer melalui program yang tidak kalah kompleks.
Kenyataan ini sudah diketahui sejak lama dan bukan menjadi hal penting atau mengejutkan. Ilmuwan komputer dan matematika seperti sebut saja John von Neumann pada 1950-an atau John Conway pada 1970-an telah mempelajari aturan sederhana dan alogaritma. Dan keduanya menemukan bahwa terkadang pendapat mereka muncul dalam bentuk sangat sederhana.
Namun sampai saat ini belum ada orang yang mengembangkan ide ini sedemikian intens dan detil seperti yang dilakukan Stephen Wolfram dengan bukunya yang kontroversial berjudul A News Kind of Science.
Buku ini bisa dibilang raksasa. Terdiri atas 1200 halaman dengan 800 kolom, 110 buah hukum Wolfram dan satu buah teori alogaritma sederhana yang mampu menjelaskan semua intrik ajaib dalam sains, demikian dilansir ABC News.

Alogaritma Sederhana
Alogaritma itu sangatlah sederhana. Bayangkan sebuah jaringan, bisa sebuah papan catur atau halma. Pada barisan atas terdiri dari lingkaran putih dan sebagian lagi lingkaran hitam. Pewarnaan pada lingkaran-lingkaran di baris pertama menentukan pewarnaan pada lingkaran di baris kedua dengan aturan tertentu.
Aturan tersebut adalah, ambil satu lingkaran di baris kedua dan periksa warna di tiga lingkaran di atasnya pada baris pertama. Jika warna-warna lingkaran itu berpola putih (P), putih (P), hitam (H), PHP, PHH, HPH atau HHP, maka warna lingkaran di baris kedua adalah hitam. Jika lain maka warnanya menjadi putih. Lakukan hal yang sama pada setiap lingkaran di baris kedua dan seterusnya.
Melalui aturan serupa, warnai semua lingkaran pada baris kedua yang juga menjadi acuan dalam pewarnaan baris ketiga dan berikut. Satu baris sebelumnya menentukan hasil pewarnaan di baris selanjutnya.
Pola seperti inilah yang diyakini Wolfram menghasilkan semua penemuan di bidang biologi, kimia, fisika, psikologi, ekonomi dan pengetahuan lain. Pola ini tidak terlihat acak, biasa atau berulang. Inilah yang disebut oleh Wolfram sebagai suatu hal kompleks dalam ilmu pengetahuan.
Lebih jauh, apabila di baris pertama alogaritma tadi dipertimbangkan ada hasil nyata, gantilah lingkaran hitam dengan angka satu dan lingkaran putih dengan angka nol. Kemudian masing-masing angka itu bisa dijumlahkan dalam proses komputasi yang membentuk satu nomor biner yang berhubungan satu sama lain.
Pola sederhana ini disebut otomatisasi seluler satu dimensi yang membentuk semua kalkulasi yang oleh Wolfram dikatakan layak menampilkan semua perhitungan masuk akal.
”Pola ini serupa dengan komputer ‘universal’ yang melalui pengkodean mampu melebihi kerja komputer termasuk di antaranya program word prossesor yang saya pakai,” begitu komentar Wolfram dalam bukunya yang dilengkapi dengan 973 ilustrasi itu.
Pandangan mengenai komputer universal yang dikemukakan Wolfram pernah pula dipelajari ilmuwan seperti Conway atau Turing. Namun 110 teori yang dikemukakan lelaki kelahiran London 1959 ini dalam buku besarnya yang menggemparkan ini benar-benar sederhana dan mudah dimengerti. Ia mengambil kesimpulan dari teori tersebut dan ratusan teori lain yang menjadi bahan pertimbangan para ilmuwan lain. Ilmuwan lain bisa saja menghabiskan lebih banyak energi agar mencapai kemajuan program. Padahal jika melalui pola pikir Wolfram, hasil itu bisa didapat dengan interaksi kompleks yang menjadi fenomena di dunia sains.
Buku A New Kind of Science ini juga mengetengahkan prinsip kesamaan komputasional yang terdiri atas segala hal menyangkut proses, artifisial, alam, yang tidak dengan sederhana bisa muncul melalui komputer universal.
Pada kenyataannya, pendekatan polimatik yang dilakukan Wolfram merupakan bagian menarik dari buku ini. Program sederhana yang ditawarkannya dapat dipakai untuk menjelaskan mengenai ruang dan waktu, matematika, keinginan bebas dan persepsi yang bisa mengklarifikasi beberapa penemuan biologi, fisika dan sains lain.
Buku ini juga menjelaskan bagaimana alam semesta sebagai penampakan kompleks dapat menghasilkan teori fisika yang mengembangkan aturan-aturan sederhana bagi perbaruan kebesaran alam semesta.

Termuda
Ini bukanlah buku pertama yang ditulis Stephen Wolfram. Sebelumnya tamatan Eton, Oxford dan Caltech ini pernah menulis buku berjudul Mathematic. Ia merupakan satu di antara ilmuwan orisinil dunia yang hanya terfokus pada asal muasal ilmu pengetahuan seperti halnya Charles Darwin memikirkan asal muasal kehidupan.
Wolfram menerbitkan tulisan sains pertama kali pada usia 15 tahun. Menerima gelar PhD pada usia 20 tahun melalui teori fisika yang dikemukakan di Caltech. Pada awal karirnya Wolfram banyak memusatkan diri di bidang fisika energi, teori quantum dan kosmologi. Baru kemudian tertarik pada komputer tahun 1973. Dalam tempo cepat ia menjadi pemimpin bidang ilmu komputer enam tahun kemudian. Di masa itu pula ia memulai konstruksi SMP, yakni komputer modern pertama yang menggunakan sistem aljabar yang dirilis secara komersial pada tahun 1981.
Pada tahun yang sama, ia menjadi ilmuwan paling muda penerima penghargaan Mac Arthur Proze Fellowship, yaitu dalam usia tidak lebih dari 22 tahun. Hal ini membuat Wolfram belia kian bersemangat. Di akhir 1981 ia mengemukakan sebuah petunjuk baru di bidang sains sebagai usaha mengembangkan teori umum mengenai kompleksitas dalam alam. Ide Wolfram ini banyak digunakan dalam eksperimen komputer untuk mempelajari perilaku sebuah program komputer sederhana yang disebut otomatisasi selular.
Tahun 1982 ia berhasil menyelesaikan seri pertama penemuannya mengenai asal muasal kompleksitas. Setelah dipublikasikan, tulisan Wolfram ini memicu berbagai pemikiran ilmuwan lain dan membentuk sebuah proyek riset baru yang dinamakan riset sistem kompleks.
Lima tahun kemudian ia mendirikan pusat riset miliknya sendiri dan sukses sebagai ilmuwan di sejumlah perguruan tinggi. Terakhir ia tercatat sebagai profesor fisika, matematika dan ilmu komputer di University of Illinois. Kini ia menjabat sebagai chief executive officer (CEO) di Wolfram Research dan terus mengembangkan rancangan sistem inti matematika.
A New Kind of Science adalah mengenai serangkaian seri penemuan dramatis yang saya buat selama 20 tahun terakhir ini. Dimulai tahun 1981 saat saya melakukan eksperimen komputer sampai hasil terakhir yang saya capai di 2001. Selama beberapa tahun saya berusaha untuk mendapatkan kerangka kerja matematika dan sains. Namun di balik itu semua, saya mengerti bahwa apa yang saya lihat adalah upaya untuk mengembangkan sebuah ilmu pengetahuan jenis baru,” jawab Wolfram mengenai latar belakang penulisan bukunya dalam situs yang dibangun khusus tentang buku tersebut. (mer)




Copyright © Sinar Harapan 2002

Sabtu, 16 Mei 2009

Contact Information

Stephen Wolfram and his staff get a large quantity of email, and can only respond directly to certain types of enquiries. Many common questions are already answered on this website, so please check the site carefully before sending mail. If you do send mail, it helps if you tell us something about yourself. If you are writing about science, you should tell us specifically how your email relates to Dr. Wolfram's work. Do not send anything you consider confidential or proprietary.

Note: Mathematica technical support questions should be sent to support@wolfram.com and not to Stephen Wolfram or his staff.

Staff email address
(the place to send general scientific and business communications)
sw-staff@wolfram.com

Personal email address
(not for general scientific and business communications)
s.wolfram@wolfram.com

Email address for media enquiries
sw-media@wolfram.com

General email address for Wolfram Research and Mathematica enquiries
info@wolfram.com

General email address for all Wolfram companies
info@wolframgroup.com

Address for physical mail
(email is strongly preferred)
c/o Wolfram Research, Inc.
100 Trade Center Drive
Champaign, IL 61820-7237, USA

Company phone number
+1-217-398-0700

Email address for feedback about this website
comments@stephenwolfram.com
Contact | © 2009 Stephen Wolfram, LLC
DARI FISIKA KE MANA-MANA
Oleh: Jansen H. Sinamo [16 Februari 2007]
Artikel ini telah dibaca sebanyak 143354768 kali

SATU dekade ke depan, manusia terkaya di dunia boleh jadi bukan lagi Bill Gates. Calon penggantinya bukan seorang computer nerd atau venture capitalist, melainkan fisikawan muda jenius bernama Stephen Wolfram. Ia baru saja menggemparkan jagat keilmuan dengan menerbitkan dan meluncurkan sendiri magnum opusnya setebal 1.200 halaman lebih berjudul The New Kind of Science (TNKS). Menurut sejumlah pembaca awal di situs Amazon.com, buku ini dalam magnitude dan gaya provokasinya dianggap setara dengan The Origin of Species-nya Charles Darwin dan Das Kapital-nya Karl Marx.

Yang luar biasa, Wolfram juga wirausahawan tulen yang piawai memasarkan dan menjual temuan-temuannya ke dunia bisnis yang makin knowledge intensive. Sebagai multijutawan dollar barangkali ia merupakan ilmuwan terkaya di dunia. Dengan kekayaan itu, ia mendanai sendiri riset-risetnya sambil menjadi CEO bagi perusahaannya dengan ratusan karyawan. Dalam komunitas fisika, sejumlah tokoh tak ragu mengatakan kehebatan Wolfram setara dengan…dewa-dewa terpenting fisika seperti Galileo, Newton, dan Einstein. Jika Galileo dikenang dengan Teori Pergerakan Planet, Newton dengan Teori Gravitasi, dan Einstein dengan Teori Relativitas, maka Wolfram dengan Cellular Automata.

Dengan perkakas ini, Wolfram mengklaim dapat memecahkan semua problem fisika abad ke-20 yang sampai kini masih misterius seperti soal relasi gaya-gaya elektromaknetik dan gravitasi. Dengan demikian cellular automata boleh jadi akan memenuhi impian suntuk Einstein- yang tak kesampaian hingga akhir hayatnya-akan adanya teori gabungan (unified theory of everything) yang mampu menjelaskan semua fenomena alam dan kosmos itu sendiri.

Namun, cellular automata lebih ambisius dari impian tertinggi Einstein. Bukan saja di bidang fisika, perkakas Wolfram ditengarai dapat menjelaskan serta memecahkan berbagai masalah fundamental dalam biologi, matematika, kimia, computer science, bahkan wilayah-wilayah lain yang secara tradisional dianggap di luar pengaruh fisika seperti sosiologi, psikologi, ekonomi, juga teologi, seni, dan filsafat.

***

APAKAH cellular automata itu? Sederhananya, cellular automata adalah sehimpunan proses fundamental peciptaan pola-pola keteraturan dengan menggunakan komputer (computer-generated ordering process) yang bentuk akhirnya sangat menyerupai apa yang terjadi di alam. Program komputer Wolfram ini mengambil input data yang tidak teratur (bahkan chaos), lalu diproses menggunakan sejumlah Aturan Wolfram, dan akhirnya menghasilkan output gambar yang sangat mengagumkan baik pola, kompleksitas, maupun derajat keteraturannya di layar komputer.

Dalam bukunya yang dipenuhi ratusan gambar itu, Wolfram menunjukkan proses terciptanya berbagai bentuk pola-pola yang kompleks seperti kristal es, bunga-bungaan, dedaunan, sebaran warna-warni bulu burung merak, spiral galaksi, turbulensi air deras, jaringan sirkuit otak manusia, badai topan, kulit kerang, lekak-lekuk sungai, pokoknya berbagai macam bentuk output dari sistem operasi alam semesta.

Wolfram berpendapat bentuk-bentuk yang dihasilkan oleh cellular automata itu bukan sekadar replika kebetulan dari fitur-fitur yang ditemui di alam, tetapi sekaligus dapat menjelaskan bagaimana alam bekerja pada tingkat paling fundamental. Karena itu, Wolfram tak ragu berpendapat, program cellular automata akan menjadi metoda paling ampuh yang dikenal umat manusia hingga kini, untuk memecahkan rahasia alam, sekaligus menjelaskan arsitektur jagat raya dan evolusi segenap bentuk kehidupan di dalamnya. Wolfram bahkan menengarai semesta alam ini tidak lain adalah sebuah mahakomputer alami yang berperilaku sebagai sebuah super cellular automata.

Di tingkat praktis, tidak saja celluar automata akan merevolusi jagat sains secara radikal, tetapi Wolfram juga menjanjikan terbukanya pintu gerbang lebar bagi lahirnya sejumlah besar teknologi baru dalam waktu segera seperti komputer kuantum, supermikroteknik pada skala atom, desain serta reparasi bagian-bagian jaringan dan organ tubuh, materi baru, dan obat-obatan baru yang lebih ajaib khasiatnya. Sungguh fantastis!

***

SIAPA gerangan sang jenius ini? Lahir tahun 1959 di London, Stephen Wolfram adalah a new kind of physicist. Ketika masih sekolah menengah di Eaton, Inggris, ia belajar sendiri fisika tingkat tinggi pada usia 12 tahun. Saat umurnya baru 15 tahun makalahnya di bidang fisika teori sudah muncul di jurnal fisika. Tak betah belajar dari guru dan dosen–menurut dia terlalu lamban–ia lalu melahap berbagai buku teks kelas berat ketika teman seusianya masih sibuk bermain Halloween dan bercinta monyet.

Pertama kali kuliah di Oxford, ia masuk semester satu. Sangat tidak menarik baginya, ia langsung menghadiri kuliah semester enam. Juga tidak cukup menarik, ia lalu memutuskan tidak pernah masuk kelas lagi. “Saya dapat mengetahui berbagai hal jauh lebih cepat dan lebih mendalam dengan membaca daripada mendengar dosen ngomong,” begitu alasannya menyebut kuliah sebagai kegiatan buang waktu. Hebatnya, ia mampu menghasilkan puluhan makalah di bidang kosmologi dan fisika partikel yang dimuat pada jurnal-jurnal fisika kelas tinggi.

Tidak sampai tamat S1 dari Oxford, ia langsung direkrut oleh raksasa fisika peraih Hadiah Nobel dari California Institute of Technology (Caltech), Murray Gell-Man, tahun 1978. Wolfram langsung masuk program doktor. Di kampus ini, di mana Richard Feynman, fisikawan legendaris lainnya bermukim, Wolfram juga tampak kurang tertantang. Agar ia betah, maka program doktor khusus diberikan padanya. Dalam tempo setahun saja, ia mendapat PhD pada usia 20 tahun tanpa harus membuat disertasi, tetapi cukup membundel ulang enam makalah terbaiknya.

Pergaulan intelektual tingkat tinggi antara doktor remaja Wolfram dengan fisikawan dewa sekelas Feynman dan Gell-Man hanya sanggup membuatnya kerasan selama 10 tahun di Caltech. Akhirnya ia bentrok juga dengan administratur institut itu perihal komersialisasi temuan-temuannya. Di usia 31 tahun, ia diterima di kampus Einstein yang legendaris, the Institute for Advanced Studies di Princeton. Wolfram tercatat sebagai anggota termuda institut itu sepanjang sejarah. Tapi, kampus penelitian paling bebas di dunia ini pun ternyata tidak sanggup menyediakan ruang bagi kebebasan gerak dan independensi intelektual yang dituntut Wolfram.

Akhirnya tahun 1986 ia mendirikan Wolfram Research Inc., institusi penelitian pribadinya. Di sinilah ia menggabungkan bisnis dan riset secara bebas yang berpuncak pada lahirnya mahakarya TNKS yang menggemparkan itu. Dalam rangka mengembangkan TNKS, Wolfram harus pula mengarang Mathematica–sebuah sistem software yang digunakan untuk keperluan komputasi teknikal dan pemrograman simbolik (symbolic manipulation programming)–terlebih dahulu, yang sama raksasa bobotnya dengan TNKS itu sendiri. Ini persis seperti Newton yang harus mengarang dulu kalkulus diferensial agar bisa menjelaskan gravitasi dan Einstein yang harus mengonstruksi dulu sebuah aljabar empat dimensi agar bisa menjelaskan relativitas.

Bedanya, kedua pendahulu Wolfram itu cuma ilmuwan murni yang hidup dari dana negara sedangkan Wolfram sekaligus entrepreneur kawakan yang jago mencetak duit gede dalam setiap langkahnya menuju puncak sains tertinggi.

***

KISAH Wolfram tampaknya tak pernah dibayangkan orang ketika memikirkan fisika. Bagi awam, fisika adalah ilmu esoteris yang tak jelas manfaat praktisnya. Sarjana fisika biasanya kere tak berduit. Pekerjaan mereka paling-paling jadi dosen atau penelitu. Otak mereka dipenuhi atom-atom, galaksi-galaksi, dan persamaan-persamaan matematika yang eksotis, tetapi kantung mereka enggak gaul. Wacana mereka serba makro tapi dompet super mikro. Konon Einstein sendiri pun pernah mengatakan, “Science is a wonderful thing if one does not have to earn one’s living at it.” Alhasil, citra fisikawan memang jauh dari menarik. Sampai hari ini pun fisika tidak pernah menjadi pilihan utama bagi kebanyakan mahasiswa cerdas namun tetap ingin hidup keren berkecukupan.

Sekitar tiga dekade lalu, jurusan fisika ITB bahkan harus menawarkan beasiswa bagi siapa saja yang bersedia masuk fisika jika lulus ujian masuk. Banyak input jurusan fisika saat itu merupakan mahasiswa kere. Sebagian lagi, terjebak oleh citra di atas, lalu hengkang dan testing ulang ke jurusan teknik. Memang ada juga minoritas yang hebat otaknya, termotivasi oleh the beauty of physics itu sendiri, menganggap mencari duit sebagai kegiatan yang inferior, memutuskan mendalami fisika sampai ke sumsum. Namun, makhluk seperti ini dianggap aneh oleh masyarakat. Orangtua pun biasanya tidak mengizinkan anaknya memilih fisika.

Bahkan, seorang ibunda Evelyne Mintarno pun, yang anaknya berhasil menjadi satu-satunya peserta putri dari Indonesia dalam Olimpide Fisika 2002 di Bali, belum merelakan putrinya memilih fisika karena terbelenggu anggapan fisikawan hanya bisa jadi guru. Padahal putrinya yang hebat itu, selain meminati sungguh fisika sudah diterima di universitas bergengsi, Stanford. (Kompas, 24/7)

***

KIPRAH para fisikawan sesungguhnya tidaklah sesempit menjadi dosen saja. Ilmu fisika yang selalu terobsesi dengan perkara-perkara fundamental, perumusan dan pemecahan masalah secara elegan, dengan disiplin berpikir yang rigor konseptual, sebenarnya lebih dari cukup sebagai bekal hidup penuh makna, termasuk hidup makmur kalau mau. Sisanya adalah minat, ambisi, dan etos kerja.

Selain menjadi peneliti dan guru, banyak sarjana fisika Indonesia akhirnya menjadi eksekutif bisnis (seperti Harianto Mangkusasono dan Charlo Mamora, terakhir keduanya menjadi konsultan pengembangan dan transformasi bisnis), rohaniwan (seperti Pater Drost), ekonom (seperti Rizal Ramli dan Umar Juoro, meskipun keduanya tidak menamatkan fisika), dan terbanyak menjadi profesional di berbagai bidang (misalnya IT, perminyakan, elektronika, otomotif, pers, SDM, pertambangan, perbankan) termasuk menjadi wiraswastawan. Intinya, dari fisika orang bisa ke mana-mana, tergantung minat, stamina juang, dan sekali lagi etos kerja.

Ke depan, seiring dengan munculnya fenomena Wolfram di atas, dapat diharapkan semakin banyak orang-orang muda yang terinspirasi menjadi fisikawan-hartawan. Mengapa tidak? Dalam dunia di mana kapitalisme global semakin meraja, semakin diperlukan sumbangan berbagai jenis inovasi berbasis fisika untuk menciptakan business value yang hebat-hebat.

Wolfram membuktikan, meraih kemakmuran tidak berarti mengorbankan ilmu, atau sebaliknya, berilmu tinggi tidak harus jadi miskin. Wolfram mendemonstrasikan sebuah paradigma baru. Menjual fisika untuk uang, dengan uang mendanai riset fisika, dan dengan uang cukup mampu memperoleh independensi berkarya, dengan sebuah efek samping yang tak kalah menarik: hidup enak dan berkecukupan.

Salah satu problem besar fisikawan murni Indonesia (ilmuwan berbasis universitas umumnya) ialah mengotakkan diri dalam ruang sempit penelitian. Mengemis dana penelitian dari birokrat yang tak paham penelitian, lalu mendapatkan dana superkecil dari anggaran negara yang memang tak peduli penelitian, kemudian dipotong sana-sini oleh oknum siluman. Maka, jadilah penelitian jejadian. Hasilnya? No money, no science, no dignity!

Saya setuju dengan pendapat Rektor ITB Kusmayanto Kadiman, bahwa ITB belum saatnya disebut a research university. Meskipun ada kontroversi di balik kisah Wolfram di atas, satu hal positif sudah jelas, ilmuwan jenis baru harus mampu menggabungkan tiga peran sekaligus: peneliti, marketer, dan eksekutif.

Saat negeri ini carut-marut dan tak punya uang, semakin absurd rasanya mengharapkan dana riset dari negara. Mungkinkah para ilmuwan kita meniru gaya Wolfram mencetak uang dengan dan dari ilmu mereka? Tantangan ini lebih relevan buat Indonesia, karena metoda favorit dalam mencari uang yang dipakai para pemegang kekuasaan di lembaga-lembaga negara kita–seperti diberitakan koran tiap hari–ialah main injak dan terkam kaya Ken Arok.

Padahal kata orang, kini era knowledge economy, di mana wealth creation akan lebih mengandalkan kreativitas, inovasi teknologi, dan pengetahuan intensif seperti didemonstrasikan Bill Gates dan Stephen Wolfram; dan bukan tanah, ternak, atau mesin, let alone brute power. Kalau ilmuwan-ilmuwan kita masa kini tidak bisa berkiprah lain daripada apa yang lazim dan zalim di masa lampau, tampaknya satu- satunya harapan kita ialah pada tunas-tunas belia yang bertarung di Olimpiade Fisika minggu lalu. Untuk mereka, selamat dan semoga jaya. Untuk panitia dan tim pelatih, terima kasih atas visi, kontribusi, dan dedikasi Anda.

*) Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, Edisi Senin, 29 Juli 2002

Jumat, 15 Mei 2009

Dr. Stephen Wolfram, pemenang award fisika, Mei ini meluncurkan Wolfram Alpha yang disebut-sebut akan mengubah dunia internet. Sistem baru yang disebut Wolfram Alpha melakukan selangkah lebih maju dalam global store information yang mampu memahami dan merespon bahasa sebagaimana layaknya manusia. Bahkan belum apa-apa sudah disebut-sebut bakal menyaingi kepopuleran mbah Google. Software web Wolfram ini dirancang berdasarkan pada software Mathematica bikinannya yang menjadi best seller. Yaitu sebuah software yang menjadi piranti standar para scientists, engineers dan kalangan akademisi untuk memecahkan soal matematika yang rumit.
Dr. Wolfram, 49 tahun, lulusan Eton dan menyelesaikan doktornya dalam Fisika Partikel saat masih berusia 20 tahun, menyebutkan bahwa diluncurkannya Wolfram Alpha baru merupakan langkah awal dari proyek yang sesungguhnya.
Menurut Tom Simpson dari Convergenceofeverything.com, kehadiran mesin pencari layaknya Google ini merupakan paradigma baru dalam hal pemakaian komputer dan web. Sementara itu Nova Spivack, internet dan computer expert, meyakini search engine yang baru ini merupakan langkah evolusi dalam perkembangan dunia internet.
Menurutnya Wolfram Alpha akan dipandang sama pentingnya dengan Google yang selama ini menjadi andalan pengguna internet di seantero dunia.
"Penampilannya begitu impresif dan signifikan," katanya penuh pujian. Namun demikian ada yang berbeda, karena menurutnya kehadiran bayi Wolfram ini memang penting bagi Web dan dunia seperti Google. "Hanya saja untuk tujuan yang berbeda."
Meski kehandalan software search engine ini belum teruji, tapi sudah cukup membuat khalayak penasaran. Setidaknya itu yang tecermin di belahan Barat sana.
Gagasan untuk merancang Wolfram Alpha ini pun tidak sembarangan. Dirancang untuk mampu membaca pencarian informasi yang sifatnya budaya pop (pop culture information) yang selama ini agak sulit dilacak jika kita menggunakan bantuan Wikipedia sekalipun.
Well, search engine yang dibilang tampilannya beda dengan Google ini bakal dipublish dalam versi beta...
Karena beberapa keunggulan bahasa mesin yang dijanjikan, maka pantaslah jika sejak awal disebut-sebut Wolfram Alpha berpotensi menjadi satu nama terbesar di planet ini. Bayangkan saja Google yang sudah lebih dulu kesohor dengan nilai lebih dari $100milyar belum-belum sudah dipandang bakal keok...

Kamis, 14 Mei 2009

Default KAUST Discovery scholarship (S1)
KAUST Discovery scholarship (S1)

King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) adalah sebuah universitas berskala internasional yang berbasis riset di bidang science dan teknologi yang berlokasi di Arab Saudi.

KAUST menawarkan program beasiswa yang disebut KAUST Discovery Scholarship diperuntukkan bagi mahasiswa S1 dari bidang studi Science dan Teknologi di perguruan tinggi manapun di Indonesia.

Persyaratan:

* Terdaftar aktif pada tahun ajaran 2007/2008 sebagai mahasiswa S1 tahun ketiga keatas dari jurusan teknik dan science di perguruan tinggi manapun di Indonesia
* Memiliki prestasi akademik dan/atau pengalaman riset yang memuaskan
* Memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik, dengan syarat: memiliki skor minimal 550 (TOEFL-PBT) atau 213 (TOEFL Computer-Based) atau 79-80 (TOEFL Internet-Based) atau 6.0 (IELTS)
* Pada Agustus 2009 sudah bisa memulai pendidikan S2 di King Abdullah University of Science and Technology, Arab Saudi

Beasiswa yang diberikan mencakup:
Selama periode kuliah S1

* Seluruh biaya kuliah (SPP dan biaya lain) sampai lulus kuliah S1
* Tunjangan hidup
* Tunjangan buku
* Tunjangan laptop/komputer
* Kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan akademik (global workshop, regional workshop, seminar, dll) yang diadakan oleh KAUST, baik di kampus KAUST di Arab Saudi maupun di negara lain (seluruh biaya ditanggung)


Setelah lulus kuliah S1

* Diterima untuk melanjutkan Program S2 di King Abdullah University of Science and Technology, Arab Saudi; dan berhak atas Beasiswa penuh yang meliputi tuition, akomodasi dan tunjangan transportasi รข€“ hingga lulus

Cara Mendaftar:
Pendaftaran hanya bisa dilakukan secara online di website:
www.kaust.edu.sa paling lambat tanggal 9 NOVEMBER 2007 .

Informasi lebih lanjut:

kunjungi www.kaust.edu.sa
atau contact
The Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Phone: (62-21) 831 7330
Fax: (62-21) 831 7331,
email: iief@indo.net. id
KAUST Discovery Scholarship

King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) adalah sebuah universitas berskala internasional untuk pendidikan pasca-sarjana berbasis riset di bidang sains dan teknologi yang berlokasi di kawasan Laut Merah, Arab Saudi.

KAUST Discovery Scholarship adalah program beasiswa penuh dari KAUST untuk mahasiswa S1 (yang masih aktif kuliah) di berbagai program studi sains/teknologi di perguruan tinggi negeri atau swasta di seluruh Indonesia.

1. Selama Menyelesaikan S1 di Indonesia : a. Biaya kuliah pendidikan S1 (yang sedang dijalani sekarang di Indonesia) ditanggung hingga lulus; b. Tunjangan biaya hidup, tunjangan buku dan tunjangan komputer; c. Keikutsertaan dalam berbagai workshop dan kegiatan internasional yang diselenggarakan KAUST di berbagai negara.
2. Setelah Lulus S1 di Indonesia : - Langsung diterima di program S2 di KAUST dengan beasiswapenuh

Persyaratan dapat dilihat di website: www.kaust.edu.sa

DEADLINE: 19 MARET 2009

Cara Mendaftar: Pendaftaran hanya bisa dilakukan secara online di website: www.kaust.edu.sa

Informasi lebih lanjut hubungi:
The Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium Lt.28 Suite B,
Jl. H. R. Rasuna Said Kav.1, Jakarta 12980
Ph. (021) 831-7330; Fax. (021) 831-7331
Email: scholarship@iief.or.id; Website: www.iief.or.id

Informasi detail kaust.pdf